Cinta Mami
Prang !!,
Suara benda berbahan kaca terdengar jatuh berhamburan di lantai. Aku yang tengah asyik menuangkan ide cerita pada layar datar di ruang kerja suamiku segera berlari menuju pusat suara. Di ruang keluarga, aku dapati benda berbahan kaca itu tampak berserakan. Benda kesayangan Mami yang sebelumnya bertengger di meja sudut bersusun empat, tak jauh dari nakas, hancur berserakan di lantai. Ruang keluarga yang tertata rapi, tiba-tiba nampak berantakan. Di sana, Nay, anakku berdiri dengan wajah kaget. Ia menangis histeris. Sedetik kemudian Mami muncul dari arah kamarnya dan terkejut luar biasa melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Seketika keterkejutannya berubah menjadi amarah.
“Nay! kamu yang memecahkan? Kamu apakan benda kesayangan Uti?, kamu banting lagi? Mau berapa banyak lagi benda-benda di rumah ini yang akan kamu hancurkan? Hahh!! Dasar anak tak tahu diuntung, bisa-bisanya kamu terus-terusan memecahkan benda kesayangan Yang uti!”
Suara Mami melengking penuh amarah, hingga memekakkan telinga siapapun yang berada di ruangan ini. Aku terperangah mendengar kata-kata Mami. Hatiku hancur berkeping-keping mendengar makian ibu angkatku pada anak semata wayangku. Ya, aku memang tinggal bersama ibu angkat, yang aku panggil dengan sebutan Mami. Beliau masih ada hubungan kerabat dengan ibu kandungku, walau jauh.
“Sudah berapa banyak benda kesayangan Yang uti yang kamu lempar! Hhehh!!” Suara Mami meninggi. “Anak tak tahu diuntung!!”
Tangan Mami sudah melayang di udara. Aku segera menahannnya.
“Mami!!” pekikku seketika. Secara spontan, aku berhasil menahan tangan Mami yang hampir mendarat di wajah anakku.
“Mi, istighfar, Mi!”.
Air mataku tumpah ruah. Tangisku pecah.
“Mami, istighfar, Mami”, pintaku sekali lagi pada Mami.
Setelah tangannya berhasil aku tahan beberapa saat, lalu Mami terduduk sambil menangis. Nafasnya naik turun, nampak sekali menahan luapan emosi yang begitu hebat.
“Bibi!” panggilku pada bibi yang sedang memasak di dapur.
“Punten, tolong ambilkan air putih hangat untuk Mami dan Nay”, pintaku.
Kurengkuh Nay kecilku dan kupeluk erat-erat tubuh mungilnya yang tak berhenti menangis.
“Cup cup, sayang”, aku berusaha menenangkan Nay, si putri kecilku yang baru berusia 2 tahun sambil terus kumenciuminya.
“Bunda sayang Nay” bisikku pada telinga Nay.
“Yang uti juga sayang Nay” lanjutku yang terus berusaha menenangkan kejiwaan Nay.
Beberapa detik aku hanya membisu. Mulutku hanya mengeluarkan suara tangisan lirih. Dan Nay masih terus menangis. Bibi datang membawa dua buah kelas yang berisi air hangat sesuai pesananku. Satu gelas ia berikan padaku, lalu kusodorkan pada Nay kecilku. Satu gelas lagi ia berikan pada Mami yang masih bersandar pada nakas dengan lemahnya sebagai efek luapan emosi beliau.
“Mi, diminum ya”, pintaku lembut pada Mami. “Biar Mami lebih tenang”’ lanjutku.
Lalu Mami meminum air dengan bantuan bibi. Setelah meminum dua sesasapan, Mami memberi kode kepada bibi dengan tangannya agar menyimpan gelas di atas nakas. Bibi segera melaksanakan perintah Mami.
“Bi, tolong bersihkan pecahan kaca ini ya bi. Tapi matikan dulu kompornya”, kataku setelah bibi selesai membantu mami minum.
Bibi segera mengerjakan apa yang aku minta. Dengan cekatan ia membersihkan ruangan keluarga dari kaca yang berserakan. Setelah sepuluh menit berkutat dengan pecahan kaca, bibi membawa pecahan itu ke belakang dan membungkusnya dengan plastik kresek tebal, lalu memasukkannya ke tong sampah.
Kupandangi Mami dengan ekor mataku. Kulihat Mami lebih tenang. Menyisakan sembab di matanya. Wajah Mami nampak letih. Guratan halus di sudut matanya nampak jelas. Kuberanikan diri mendekati Mami.
“Mi, maafin Nay, ya Mi”.
“Biar Teteh ganti dengan yang baru.”, ucapku lembut, meski batinku perih melihat kemarahan Mami yang begitu hebat pada putri semata wayangku.
“Meskipun nilai sejarahnya tak kan pernah bisa tergantikan” lanjutku, sebelum Mami sempat mengatakan hal serupa.
Aku tahu betul betapa bersejarahnya benda yang dihancurkan Nay. Benda itu adalah pemberian Papi sehari sebelum Papi menghembuskan nafas terakhirnya tepat di hari ulang tahun Mami. Dan ini memang bukan kali pertama Nay melempar benda-benda yang dekat dengannya. Ini selalu terjadi setiap kali Nay sedang mengalami luapan emosi, baik emosi senang ataupun marah.
“Mami, maafkan teteh” jeritku yang tersangkut di tenggorokan. Air mataku kembali melesat dari sudut mata tanpa aku bisa menahannya.
“Maafkan Nay juga ya, Mi!”, ucapku dalam hati. Air mataku semakin deras melaju melewati pipiku yang tembem. Aku berjongkok dan kupeluk tubuh Mami yang kurus dengan Nay yang masih dalam gendonganku. Kudorong batinku sekuat tenaga untuk mampu berkata pada Mami,
“Mi, maafkan teteh dan Nay, ya!”, akhirnya suaraku keluar setengah berbisik pada telinga Mami. Kulepaskan pelukanku pada Mami. Kulihat air mata Mami juga meleleh dan segera kudaratkan tangan kananku di pipi Mami, lalu kuhapus air matanya dengan lembut. Kulayangkan kecupanku pada kening Mami yang sudah dihiasi garis-garis halus dengan penuh rasa sayang.
“Teteh sayang Mami” bisikku sambil kembali kupeluk erat beliau. Beberapa saat kami berpelukan. Lalu Mami mendorong tubuhku sedikit menjauh dengan lembut. Mami manatapku dengan wajah yang basah dengan air mata. Lalu bergantian menatap Nay. Dan Mami memeluk kami berdua. Tangisan Mami kembali pecah.
“Mami sayang kalian”, ujarnya.
Kubalas kalimat Mami dengan sebuah anggukan dan senyuman termanisku. Tanpa terasa buliran bening kembali berjatuhan dari sudut mataku dengan cukup deras.
“Iya, Mi, Teteh tahu Mami sayang kami. Terimakasih atas kasih sayang Mami padaku dan Nay” ucapku.
“Maafkan Mami ya, Teh”, tiba-tiba kalimat itu meluncur dari bibir Mami. Lembut tapi sangat menohok batinku. Kubalas dengan gelengan kepala.
“Mami tidak bersalah. Tetehlah yang bersalah, karena tidak bisa menjaga Nay dengan baik. Mami jangan bilang seperti itu, Mi. Maafkan teteh dan Nay ya, Mi”, ucapku sambil kupegang erat jemari Mami. Mami mengangguk tanpa suara. Suasana kembali hening. Hanya suara sesenggukan kami bertiga yang terdengar.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan kubuang dengan lembut, nafasku, juga seluruh luka akibat kejadian itu.
Aku mencoba mencairkan suasana. Aku turunkan Nay dari gendonganku setelah kuberi ia air putih hangat. Aku memberi Nay mainan. Lalu aku melangkah menuju dapur dan melewati kamarku yang berukuran tidak terlalu besar bersebelahan dengan kamar Mami. Kamarku hanya cukup untuk menyimpan sebuah tempat tidur berukuran king size, sebuah meja rias, dan lemari pakaian 3 pintu.
Di dapur aku dapati bibi yang sedang memasak sup iga kesukaan Mami dan mas Handoko. Kulihat sekilas wajah bibi saat memasuki dapur. Dia nampak syok. Kuperhatikan bibi hanya mengaduk-ngaduk sup. Di dekat magic com sudah tersedia tempe goreng kesukaanku dan sambal tomat yang sangat menggoda.
“Duh bi, aromanya bikin laper”, ucapku memecah keheningan di dapur.
“He, iya Teh” timpal si bibi.
“Sebentar lagi supya sudah mateng, Teh” ucap bibi dengan kepala terus menunduk.
“Hati-hati bi, entar supnya keasinan karena kemasukan ingus bibi!”, candaku.
“Ah teteh, nggak mungkin atuh!” sambil mengusap air mata yang masih membasahi kedua pipinya dan menoleh padaku yang sedang menahan tawa.
“Oh iya Bi, tolong gorengkan bala-bala, ya, sisa adonannya ada di kulkas, habiskan semuanya. Soalnya kalau disisakan pasti nggak akan enak rasanya, bi!”, kataku.
“Ya, Teh” jawab bibi.
Selepas shalat subuh dan mengaji tadi, aku sempatkan membuat adonan bala-bala kesukaan keluarga kami. Sudah menjadi kebiasaanku, setiap pagi aku membuatkan kudapan untuk keluarga kecilku. Tidak lupa air teh panas yang diberi sedikit daun mint untuk Mami dan secangkir kopi untuk Mas Handoko, suamiku.
Aku kembali ke ruang keluarga. Aku mendapati Mami sedang bersama Nay. Mami sudah nampak kembali tenang. Tidak lama berselang, bibi datang membawakan bala-bala hangat lengkap dengan mayonais pedas sebagai cocolannya.
“Haturnhun, bi” kataku. “Iya Teh”, jawab bibi.
“Mami mau minum teh?”, tanyaku pada Mami.
“Iya, boleh, tapi nggak usah pakai daun mint, ya bi” jawab Mami langsung ditujukan pada bibi.
“Iya, bu”, jawab bibi.
Bibi segera meninggalkan kami dan membuatkan air teh panas pesanan Mami.
Aku melirik jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 11.32 ketika Mami menikmati teh buatan bibi.
“Saatnya aku mengirim makan siang untuk Mas dan karyawan”’pikirku.
Aku segera mengambil hape dan jemariku lincah menekan tombol-tombol virtual di layar ponselku. Aku memesan gojek untuk mengantarkan makan siang untuk suamiku dan karyawan yang sudah dikemasi oleh bibi.
Aku dan mas Handoko memang sudah sepakat untuk menyantap makan siang buatan rumah. Kami sedang menekan biaya pengeluaran. Usaha percetakan yang dirintis suamiku belum banyak menghasilkan pundi-pundi. Meskipun warisan Papi sangat banyak, tapi aku dan suami sepakat untuk tidak menyentuhnya.
Perusahaan warisan Papi dikelola oleh keponakan Papi, Mas Irwan. Dan setiap bulan Mami mendapatkan bagiannya yang ditransfer ke rekening Mami. Mulanya, Mami meminta kami mengelola perusahaan Papi, tapi kami menolaknya. Alasannya cukup logis. Baik aku maupun mas Handoko tidak memiliki latar belakang ilmu yang mumpuni untuk mengelola perusahaan Papi yang bergerak di bidang broadcasting. Dan kebetulan Mas Irwan, keponakan Papi bekerja di bidang yang sama dengan perusahaan Papi. Maka, aku mengajukan usul agar Mas Irwanlah yang melanjutkan usaha Papi. Toh, dia juga keponakan Papi. Lagi pula orangnya sangat jujur, begitu pula dengan Mbak Rina, istrinya. Mereka sama sekali bukan tipe orang yang maruk pada harta. Mamipun setuju usulanku. Dan sebuah anugerah terindah dari Allah, Mas Irwan bersedia menerima tawaran Mami.
Beberapa purnama telah datang dan pergi beberapa kali setelah peristiwa Nay memecahkan benda kesayangan Mami. Tidak terasa Nay sudah berusia genap 3 tahun. Sejak peristiwa pecahnya benda kesayangan Mami kala itu, aku tak pernah lagi membiarkan Nay sendirian. Aku selalu menemaninya.
Mami memintaku agar lebih mengutamakan Nay daripada pekerjaan rumah.
“Kan sudah ada bibi yang membantu, Teh.”, ujar Mami sehari setelah peristiwa itu.
Di usia Nay genap 3 tahun, ada hal dari Nay yang mengusik pikiranku dan Mami. Begitu pula dengan Mas Han. Nay belum juga mampu berbicara seperti anak-anak seusianya. Hanya “euh, euh” yang bisa keluar dari bibirnya ketika ia menginginkan sesuatu.
Dulu, saat usia Nay satu setengah tahun, ia sudah mampu memanggil neneknya dengan panggilan “Titi” dan memanggil ayahnya dengan panggilan “papapa”. Seiring berjalannya waktu, seolah Nay mengalami kemunduran berbahasa. Ia tidak lagi bisa memanggil nenek atau ayahnya dengan panggilan yang biasa dia lakukan.
Aku berpikir, “Ah, mungkin itu hal yang biasa dan tidak lama lagi Nay pasti akan bisa berbicara laiaknya anak-anak sesuianya.” Terus saja aku berpikir seperti itu. Begitu pula Mami dan Mas Han. Hingga akhirnya, usia Nay menginjak tiga tahun. Kemampuan berbicara Nay tidak mengalami peningkatan. Kami mulai khawatir, terutama Mami.
“Kalau dulu, anak usia 3 tahun itu sudah bisa bicara bebrapa kata lho, Teh!”.
Aku hanya diam.
“Coba lihat itu anake Irwan yang mbarep, Caca dah cerewet. Apa nggak sebaiknya kita bawa Nay ke dokter anak, pasti dokter tahu penyebabnya. Mami khawatir Nay kenapa-napa”, lanjut Mami.
“Ah Alhamdulillah”, batinku, “Ternyata Nay ada dalam peta pikiran Mami”, syukurku dalam hati, bahagia.
Aku masih terdiam mendengar kekhawatiran Mami. Mami kembali melanjutkan pandangannya soal Nay,
“Soal biaya nggak usah bingung, pakai uang Mami dulu. Nanti kalau papanya Nay sudah ada uang, boleh kalau mau dikembalikan, kalaupun enggak juga nggak apa-apa, toh Nay kan cucu Mami.”, hatiku kembali bersyukur mendengan kalimat mami. Maknyes rasanya.
Mami seolah paham dengan jalan pikiranku. Keuangan memang salah satu masalah kami. Bukan kami tidak mau membawa Nay ke dokter anak. Tapi kami masih mengumpulkan dana untuk keperluan itu. Bukan rahasia lagi, biaya ke dokter spesialis itu tidak sedikit. Dan dokter pasti akan merujuk ke bagian tumbuh kembang anak. Butuh biaya besar. Usahaku membantu keuangan keluarga belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Aku hanya mengandalkan minatku di dunia tulis menulis. Dua artikelku sudah berhasil menembus koran lokal. Hanya itu. Sedangkan tulisan opiniku belum laiak muat.
Sekarang aku sedang mencoba keberuntunganku dengan menulis cerpen. Namun, nasib cerpenku masih sama dengan tulisan opiniku, kumpulan cerpenku belum juga berhasil dilirik penerbit. Meski demikian, aku tidak putus asa. Aku terus belajar dan berusaha, juga tentunya diiringi dengan doa-doa yang kurapalkan di setiap sujudku. Aku memegang prinsip “man jadda wajada”.
“Teh”, suara Mami memecah lamunanku.
“Sudahlah, soal biaya nggak usah dipikir. Ayo, sekarang cari informasi dokter mana yang bagus!”, titah Mami.
Aku tidak lagi mampu menolak saran Mami. Pikirku, “mau sampai kapan Nay akan menunggu biaya terkumpul hasil jerih payah kami, orang tuanya.” Kumenarik nafas panjang dan membuangnya dengan lembut.
“Baiklah mi, Teteh akan menerima saran Mami. Tapi mohon maaf, mungkin kami belum bisa segera mengembalikan uang Mami”, jawabku.
“Teteh, Nay kan anak teteh, yang berarti juga cucu Mami. Sudahlah, jangan berpikir yang aneh-aneh. Dan jangan menunda lagi. Ayo, segera cari informasi!” timpal Mami.
“Baiklah, Mi. Teteh segera mencari informasi.” Dengan lincah tanganku segera menekan tombol-tombol virtual di layar ponselku yang sedari tadi aku pegang. Aku membaca setiap informasi yang diberikan oleh google, si mesin pencari informasi yang handal.
Mami sangat menyayangiku, meski aku hanyalah anak angkatnya. Ya, aku hanyalah anak angkat Mami dan Papi. Sejak aku berusia 3 tahun aku dibesarkan dalam pengasuhan mereka. Waktu itu, Mami dan Papi belum dikaruniai putra, meskipun usia pernikahan mereka menginjak tahun ke lima. Lalu mereka mengangkat aku sebagai putrinya. Mereka berdua sangat memanjakan aku, entah mungkin karena sangat bahagia berkesempatan mengasuh seorang anak atau mungkin memang begitulah cara mereka menunjukkan kasih sayangnya padaku. Pasangan suami istri mana yang tak menginginkan keturunan dari pernikahan mereka.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Papi dipanggil Sang Pemilik alam semesta setelah aku hidup bersama mereka beberapa bulan. Saat itu Papi mendadak mendapat serangan jantung ketika usai mengikuti rapat pimpinan di kantornya. Papi adalah pemilik perusahaan yang bergerak di bidang broadcasting.
“Mi, ini ada dokter yang bagus. Namanya dokter Purwoyo. Selain di rumah sakit internasional, dia juga memiliki klinik khusus menangani anak-anak special need. Tapi di luar kota, Mi. Butuh waktu 2 jam untuk sampai ke sana.”, jelasku pada Mami.
“Nggak masalah” timpal Mami. “Kita bisa menggunakan mobil perusahaan Papimu, biar Mami yang bilang pada Mas Irwan.”, lanjut Mami. Akupun mengangguk.
“Teteh lihat jadwalnya dulu ya, Mi”. Mami terdiam menunggu.
Beberapa detik kemudian aku berhasil menemukan jadwal sang dokter, baik di rumah sakit maupun di klinik pribadinya.
“Mi, jadwal terdekat tuh di rumah sakit. Besok jam 18.30-23.00, Mi” ucapku girang.
“Ya, kalau begitu coba kamu hubungi bagian pendaftaran, semoga saja belum penuh”, kata Mami.
“Baik, Mi. Teteh akan segera menelpon bagian pendaftaran. Kebetulan ini sudah Teteh temukan nomernya”, timpalku.
Aku segera mendail nomer bagian pendaftaran rumah sakit tempat dokter Purwoyo bertugas yang sudah tertera di layar ponselku. Aku berhasil mendaftarkan anakku, Nayshila. Sementara itu Mami menghubungi Mas Irwan untuk meminjam mobil perusahaan.
Keesokan harinya kami berempat segera meluncur ke rumah sakit internasional tempat dr. Purwoyo bertugas. Kami mendapat nomer urut panggilan 3. Setelah menunggu setengah jam, akhirnya Nay dipanggil ke ruang dokter. Suasana konsultasi yang hangat membuat Nay tidak takut. Hasil diagnosa dokter menunjukkan Nay menyandang gifted disinkroni.
“Anak penyandang gifted disinkroni ini sebenarnya cerdas, akan tetapi mengalami ketidaksesuaian dalam perilakunya. Butuh kesabaran yang luar biasa dari orang-orang sekitarnya. Insyaallah dengan terapi yang terus menerus, Nay akan segera dapat keluar dari kondisi ini, walaupun tidak seratus persen. Namun Nay akan dapat hidup secara mandiri.”, jelas dokter pada kami.
“Jadi, Ibu dan Bapak tidak perlu khawatir berlebihan”, lanjut dokter.
“Setiap anak adalah anugerah Tuhan bagi orang tuanya” lanjut dokter.
Kami mengangguk-angguk mendengar penjelasan dokter.
“Bagaimana dengan kemampuan berbicaranya, dok?”, tanyaku.
“Nay mengalami hambatan di saraf bahasa. Insyaallah dengan terapi wicara kita akan membantu Nay mampu berkomunikasi dengan baik” jelas dokter penuh kesabaran.
Setelah puas berkonsultasi, lalu kami diminta untuk mengambil jadwal terapi di bagian pendaftaran. Selama aku dan Mas Han meminta jadwal di bagian pendaftaran, Mami menemani Nay bermain di area bermain. Sekali waktu aku mencuri pemandangan yang sangat menyentuh itu. Aku mengerjap-ngerjapkan mata menahan buliran bening agar tidak terjatuh. Meskipun dalam darah Nay tak setetespun mengalir darahku apalagi darah Mami, namun Mami nampak sangat menyayangi Nay. Ya, Nay memang bukan anak kandungku, tetapi batinku telah menyatu dengan desahan nafasnya. Mengingat siapa Nay, mebuat pikiranku melayang pada satu peristiwa bersejarah.
Sebagai seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak bekerja selain membersihkan dan merapikan rumah, aku memiliki waktu luang yang cukup banyak. Sesekali aku membantu bidan Ana, jika banyak ibu yang akan melahirkan di rumahnya. Demikian pula ketika hari kelahiran Nay. Sehari sebelumnya, aku dan ibunya sempat berbincang-bincang di beranda rumah bidan Ana.
Di bawah pohon jambu air yang buahnya mulai ranum, ia menceritakan kisah hidupnya yang penuh bahagia sekaligus penuh luka. Wanita itu bahagia karena menikah dengan lelaki yang sangat dicintainya. Meski kebersamaan mereka tak lama, hanya 1 tahun, tepat di kala ia berbadan dua. Usia kandungannya baru 4 bulan ketika suaminya menghembuskan nafas terakhir akibat penyakit leukeumia yang dideritanya. Dan hidupnya pun penuh luka karena setelah pernikahan itu, ia dibuang oleh keluarganya karena tidak sudi memiliki menantu yang penyakitan.
“Sudah tahu dia penyakitan, ngapain kamu menikah dengan dia. Seperti nggak ada laki-laki lain saja”, begitu komentar bibinya.
Ya, ia tinggal bersama nenek dan bibinya. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia -ketika ia berusia 5 tahun- dalam sebuah kecelakaan beruntun dalam perjalanan menuju kota untuk mengikuti tes CPNS. Sejak itu, praktis ia tinggal bersama nenek dan bibinya hingga ia menikahi lelaki yang menjadi ayah sang jabang bayi yang tengah dikandungnya.
Cerita yang ia dapatkan dari nenek dan bibinya, ia ceritakan kembali padaku dengan mata berkaca-kaca. Ia nampak berusaha keras menahan desakan air matanya agar tidak tumpah dan menyakiti batin bayinya. Ia tahu betul, ikatan bayi dan sang ibu sangatlah erat.
“Subhanallah, ibu sangat kuat sekali menghadapi cobaan yang sedemikian berat” kataku menanggapi ceritanya.
Ia pun tersenyum. “Saya harus kuat, demi anak dalam kandungan saya”, timpalnya.
“Saya ingin dia menjadi wanita yang tangguh seperti Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad saw. Saya juga ingin dia tumbuh menjadi wanita cerdas secerdas Siti Aisyah, putri Abu Bakar sekaligus juga istri baginda Nabi yang mulia, Nabi Muhammad saw” lanjutnya sambil mengusap lembut perutnya yang sudah menunjukkan tanda-tanda akan segera melahirkan.
“Amin” timpalku, “Insyaallah ia akan menjadi wanita yang hebat seperti ibunya” kataku sambil mendakap pundak wanita tersebut.
“Ibu ingin dia berjenis kelamin wanita?”, tanyaku.
“Iya”, jawabnya. “Mendiang ayahnya juga menginginkan dia berjenis kelamin wanita” jelasnya.
“Owh. Ibu ingin memberi nama apa buat dia?”, tanyaku.
“Mmm, ayahnya menginginkan nama Nayshila buat calon bayinya ini”, jawabnya.
“Nama yang sangat cantik” timpalku.
Sejak Nay belum genap berusia 1 hari, dia sudah berada dalam pelukanku. Ibu kandungnya meninggal setelah beberapa jam melahirkan Nay. Nay kecil tak memiliki siapa-siapa lagi. Nay sebatang kara di kota ini.
Sejak itu, rumah kami diramaikan oleh tangisnya. Hari-hariku bersama suamiku terasa lebih hangat dan berwarna. Lima tahun sudah biduk rumah tangga kami sepi dari suara bayi. Ya, Allah SWT belum memberikan kesempatan kepadaku dan suami tercintaku untuk menimang bayi dari darah daging kami, meskipun secara medis kondisi kami baik-baik saja.
“Anak itu kan tak selalu harus terlahir dari rahim sendiri kan, Mas”, begitu ucapku pada suamiku, sesaat setelah Nay aku bawa ke rumah.
“Insyaallah Nay akan tetap menyayangi kita, meski kelak dewasa dia menjadi orang yang sukses. Asal pengasuhan dan pendidikan yang kita berikan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Siapa yang menanam pohon jeruk, pastilah memanen buah jeruk, tidak mungkin memanen buah semangka, iya kan, Mas?”, lanjutku.
Mas Han tersenyum mendengarku, lalu memeluk erat tubuhku dari samping.
Kami sangat bahagia dengan kehadiran Nay. Nayshila Az Zahra adalah permata hati kami. Meski Nay mengalami kondisi yang memerlukan perhatian ekstra, hal itu tak mengurangi kebahagiaan kami dan kasih sayang kami padanya.
“Bun”, panggilan Mas Han memecahkan lamunanku.
“Bagaimana kalau mengambil jadwal setelah maghrib?”, tanya Mas Han.
“Kalau aku terserah Mas, kan aku hanya punya kesibukan di rumah”’ jawabku.
Lalu pegawai di bagian pendaftaran segera mencatat jadwal Nay. Nay mendapat terapi 2 kali dalam seminggu.
“Pak, bu, ananda Nay diterapi oleh ibu Dian ya, setiap hari Selasa dan Kamis jam 18.30 WIB”, jelas pegawai pendaftaran.
“Silakan datang tepat waktu, agar Ananda Nay mendapat terapi sesuai durasi”, jelasnya lebih lanjut dengan wajah yang selalu mengembangkan senyum.
Setelah mendapatkan jadwal, kami segera kembali ke rumah. Aku memanggil Mami dan Nay yang berada di arena bermain.
“Mi, Nay, ayo kita pulang”. Mami dan Nay segera beranjak dari ruang bermain.
“Mi, Nay mendapat jadwal 2 kali dalam seminggu. Hari Selasa dan Kamis, jam 18.30 WIB”, jelasku pada Mami. Mami hanya mengangguk.
Setiap minggu dua kali, aku, Mas Han dan Mami setia mengantar Nay menjalani terapi. Dengan kasih sayang kami, Nay tumbuh menjadi anak yang ceria dan penuh percaya diri. Ia adalah bunga nan indah yang tumbuh dalam kehidupan kami. Seperti namanya, Naysila yang berarti sarang lebah yang memberikan kemanisan alami bagi penikmatnya. Semoga hidupnya selalu memberikan dan menorehkan catatan sejarah yang manis pada agama dan masyarakat. Dan, Az Zahra, yang berarti bunga. Semoga ia pun menjadi kembang indah bagi masyarakat dan agamanya. Amin.
Cijati Asri, 7 Januari 2019
#Telah dicetak dalam sebuah buku Antologi yang berjudul "1001 Macam di Masa Pandemi"
Comments
Post a Comment