Rinai
Gelap
Langit tertutup awan hitam pekat
Kesiur angin tak lagi berhembus rapat
Jutaan bulir bening berlarian ke darat
Membasuh luka-luka yang menjadi penat
Basah
Hitam pekat, lalu memudar
Basuh segala rupa di bumiku, harapan berpendar
Satu persatu lepaskan duka di mata nanar
Mengalirlah jauh semua wahai duka lara yang mencecar
Rinai mengalung bumi, segar
Harapan bersua
Terkadang,
Tak perlu kata
Tuk ungkap rasa
Cukup sesungging senyuman
Sangat berarti dan sukses menayngkan spektrum sejuta rasaku
Entah mengapa rasa ini begitu indah, tanpa syarat
Entah mengapa jantung ini selalu berdegup kencang, tanpa aba-aba
Kala mata kita saling bertatap
Inikah rahmat dari Sang Maha Kasih
Setelah dua dasawarsa bertali kasih
Setelah ribuan purnama datang dan pergi tanpa pamrih
Setelah ribuan cangkir kopi kita nikmati
Kesyukuran tiada henti
Atas nikmat batin dan ragawi
Yang datang tiada henti
Luka dan bahagia
Tangis dan tawa
Datang silih berganti tak sanggup hapuskan rasa
Terimakasih ya Rabb
Comments
Post a Comment