Selaksa Rindu

 Ruang Biru


Lama..

Kupandangi layar gawai..

Berharap kau berkirim kabar

Lama

Kutatap 

Hanya gambarku yang kudapati

Gambar yang kujadikan wallpaper 


Kosong

Ya, kosong

Beberapa hari ini 

hanya menjadi ruang kosong


Salam yang tak berbalas

Menghilang ditelan kebisuan

Mencipta keresahan

Ada apa denganmu di sana


Ruang yang biru


Kini kosong

Berubah kelabu

Hampa


Berulang kali kubuka ruang itu

Hanya disambut harapan tabu

Tetap

Kosong

Ku terjebak di ruang hampa 


Duhai engkau...

Ku kehilangan kata

Sepi tanpa sapa


Duhai engkau...

Hanya potretmu

Kupandangi dengan pilu


Entah mengapa bulir bening terjun bebas

Menganak sungai 

Saling berkejaran

Tak terbendung


Sinis mentertawaiku

Menertawai rasa yang tercipta, sendiri


Entah pada siapa ku kan berkirim surat

Alamat tujuan tak lagi tereja

Sulitku menuliskannya


Mungkinkah rasamu pun tak lagi tereja

Hingga mencipta ruang hampa

Lengang dari sapa


Kutunggui dedaunan yang menguning

Menuliskan setiap geliat rasa

Berserak tanpa makna


Cijati Asri, 16 Desember 2021

****

Cinta Fatamorgana

Mengapa kumenantimu

Tak ada lagi alasan untuk itu

Untuk apa

Bila kata tak lagi ada


Ruang rindu itu kau biarkan teronggok

Meski sekali waktu kau melintasinya


Mengapa kumenantimu

Sapamu

Salammu

Tak ada lagi untukku


Jangan berakhir

Aku tak ingin berakhir

Satu jam saja

Ku ingin berdua

Mengenang yang pernah ada


Jangan pernah berakhir

Karena esok tak kan lagi

Satu jam saja

Hingga kurasa bahagia

Mengakhiri segalanya


Jangan berakhir

Kuingin sebentar lagi

Satu jam saja

Izin aku merasa 

Rasa itu pernah ada


Cinta ini hanya fatamorgana


Cijati Asri, 16 Desember 2021

***

Rasamu tak lagi rasamu


Ruang bincang kemarin 

tak seperti dulu

Yang begitu manis

Dan selalu menuai rindu


Sungguh 

aku tak lagi melihat dirimu yang dulu 

saat kau datang

Begitu menggebu


Sesak 

Memaksa bulir bening kembali berguguran

Ku tergugu 

Demi rasa yang terkoyak

Panggilan cinta berubah bagai parang yang mencabik


Mengapa aku terluka

Mengapa

Tersembul tanya yang terasa begitu perih

Senyatanya


Benarkah rasa sepihak 

telah menghujam begitu dalam 

di relung batinku


Jiwaku meluruh

Tak kuasa menanggung perih

Jiwaku lunglai

Menanggung duka teramat dalam


Cijati Asri, 16 Desember 2021

***

Titip Rindu Pada Senja


Tak lagi kutitipkan rinduku pada kata

Biar saja ia menguap 

Dan bersandar pada mega

Jika engkau inginkan, 

Petiklah rinduku di sana 

Ia kan tetap di sana

Meski engkau telah lupa

Padaku, engkau pernah berkata suka  


Tak lagi kutitipkan rinduku pada kata

Biarkan sang bayu kan membawanya

Pergi pada lembayung senja

Dan bercerita tentang kisah kita di sana

Jika engkau inginkan,

Datanglah pada senja

Kau kan dapati rinduku bersemayam di sana


Tak kan lagi kutitipkan rinduku pada kata

Hingga ku menutup mata

Mengakhiri tarikan nafas kehidupanku

Di dunia fana


Cijati Asri, 16 Desember 2021

***

Terluka

Padaku, kau pernah berkata suka

Burung sawah melesat berterbangan 

Tercekat

Demi mendengar tuturmu


Padaku, kau pernah berkata rindu

Burung hantu berhenti menghuhu

Terkejut

Demi mendengar pengakuanmu


Padaku, kau pernah berkata 

Ingin menjumpaiku secara spesial

Bibirku kelu

Detak jantung bak gendang ditabuh bertalu-talu

Demi mendengar kejujuranmu


Oh wahai engkau

Oh wahai engkau


Kuberharap ini hanya mimpi

Karna kutahu

Akulah yang akan terluka

Menangis pilu tak berkesudahan

Diantara kelamnya malam


Cijati Asri, 18 Desember 2021


****

Ini Topengmu


Kini,

Aku mulai tahu siapa dirimu sesungguhnya

Sungguh sakit saat aku sadari itu

Hal yang tak pernah terduga sebelumnya

Karena tokoh yang kau perankan saat ini begitu mulia


Sungguh aku tak menduga


Menangis??

Sungguh sebuah kesia-siaan

Tak berharga


Aku sudah jatuh 

Untuk apa aku jatuhkan diriku lebih dalam

Air mataku bukan untuk sesuatu yang sia-sia


Aku sudah terluka

Untuk apa aku lukai diri lebih dalam

Air mataku bukan untuk raga yang tak berhati


Air mataku

Terlalu mulia

Untuk sebuah dusta


Ini topengmu

Aku tak butuh


Cijati Asri, 18 Desember 2021


**

Pelangi di Langit Rindu


Diammu 

Sungguh membuatku takut

Sungguh aku takut

Takut kau lupa dengan rasamu


Kuingin kau hadir 

Seperti malam ini

Hangatkan jiwaku

Teduhkan kalbu


Canda, tawamu

Celoteh kisahmu

Ciptakan pelangi di langit rinduku



Kuingin peluk kau erat

Abaikan bintang yang cemburu

Menyaksikan keriuhan hati kita

Yang tak biasa


Gemuruh rasa menjalari ruang rindu

yang beberapa hari kau biarkan sunyi

Jangkrik tersulut cemburu

menyaksikan gemerlapnya ruang rindu yang kemarin sepi


Ah kau

Membuatku pasrah 

Pada rasa yang kian membuncah

Kan kuteguk selaksa rindu yang kau suguhkan

Rinduku berpilin, taklukkan sadarku


Tetaplah di sini

Jangan kau datang untuk pergi

Aku ingin tetap seperti malam ini

Karna separuh hatiku tlah kau curi


Cijati Asri, 25 Desember 2021

#Late_post

Comments